LUWUK – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk menggandeng Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Banggai untuk meluncurkan program budidaya ikan sistem bioflok. Kolaborasi ini bertujuan memberikan keahlian praktis bagi para warga binaan agar mereka siap berwirausaha setelah masa pidana usai. Oleh karena itu, sinergi ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten dari balik jeruji besi.
Hasilnya, para narapidana kini mulai mengelola kolam-kolam ikan modern yang terpasang di area bengkel kerja Lapas Luwuk.
Inovasi Perikanan untuk Bekal Masa Depan
Selain itu, warga binaan juga mempelajari cara mengolah mikroorganisme agar menjadi nutrisi alami bagi ikan. Dengan demikian, metode ini mampu menekan biaya operasional sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar Lapas.
Kepala Lapas Luwuk berharap program ini dapat memenuhi kebutuhan protein internal serta mendatangkan profit melalui koperasi. Oleh sebab itu, materi pelatihan juga mencakup strategi pemasaran agar warga binaan memahami rantai bisnis dari awal hingga akhir. Langkah ini bertujuan agar setiap individu memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk membuka lapangan kerja baru nantinya.
“Kami ingin mengubah pola pikir warga binaan menjadi lebih produktif. Sebab, keahlian budidaya bioflok memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan di pasar lokal,” ujar pimpinan Lapas Luwuk.
Baca Juga:Kajian H. Iswan Kurnia Hasan: Keagungan Tarawih Ramadan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/JADWAL-IMSAK-MADIUN-345345435.jpg)
Jaminan Kualitas Melalui Sertifikasi Resmi
Disnaker Banggai akan menerbitkan sertifikat kompetensi bagi seluruh warga binaan yang berhasil menuntaskan pelatihan ini. Bahkan, sertifikat tersebut menjadi bukti keahlian yang sah untuk mempermudah mereka mencari pekerjaan secara formal. Oleh karena itu, dukungan pemerintah daerah sangat krusial dalam memberikan kesempatan kedua bagi para narapidana untuk memperbaiki hidup.
Masyarakat memberikan respon positif karena program ini mengubah citra Lapas menjadi pusat pendidikan yang bermanfaat. Dengan begitu, kita dapat menekan angka residivisme melalui penguatan ekonomi yang nyata dan terarah. Kerja sama ini membuktikan bahwa pembinaan yang efektif memerlukan keterlibatan aktif dari berbagai instansi pemerintah.
Komitmen Membangun Kemandirian Ekonomi
Pada akhirnya, proyek bioflok di Lapas Luwuk ini akan menjadi model percontohan bagi wilayah lain di Sulawesi Tengah. Hasilnya, para warga binaan tidak hanya membawa pulang kebebasan, tetapi juga membawa ilmu yang bermanfaat bagi keluarga mereka. Pada akhirnya, kemandirian ekonomi adalah kunci utama untuk menciptakan stabilitas sosial yang lebih baik.
Pemerintah berjanji akan terus mendampingi program ini agar tetap berjalan secara berkelanjutan dan inovatif. Sebab, investasi pada kemampuan manusia adalah cara terbaik untuk membangun daerah Banggai yang lebih inklusif.





